Sabtu, 19 Desember 2015

GENDER MALAIKAT



P
erdebatan eksistensi gender Malaikat atau jenis kelamin Malaikat bukanlah perdebatan yang baru. Zaman mengungkap fakta bahwa awal mula perdebatan gender Malaikat telah terjadi sejak zaman Ibrahim dan Nabi Luth. Baik versi Al Quran maupun Injil dalam kisah Lot. Kedua kitab suci itu mengungkap tabir sejarah yang menyisakan perdebatan gender Malaikat, yang dikemudian hari menjadi sebuah keyakinan bagi umat tertentu.
Al Quran mengkisahkan Nabi Luth yang didatangi Malaikat yang bersosok lelaki tampan, seperti firmannya,

$£Js9ur ôNuä!%y` $uZè=ßâ $WÛqä9 uäûÓÅ öNÍkÍ5 s-$|Êur öNÍkÍ5 %YæösŒ tA$s%ur #x»yd îPöqtƒ Ò=ŠÅÁtã ÇÐÐÈ  

(Q.S. Huud [11] :  77). dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, Dia merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan Dia berkata: "Ini adalah hari yang Amat sulit [729]."
[729] Nabi Luth a.s. merasa susah akan kedatangan utusan-utuaan Allah itu karena mereka berupa pemuda yang rupawan sedangkan kaum Luth Amat menyukai pemuda-pemuda yang rupawan untuk melakukan homo sexual. dan Dia merasa tidak sanggup melindungi mereka bilamana ada gangguan dari kaumnya.

Injil memang tidak seluruhnya menyimpang, Injil yang asli dan benar tentu tidak akan pernah bertentangan dengan Al Quran, karena kedua kitab suci itu datang dari sumber yang sama, yaitu Allah SWT.

Ada beberapa ayat dalam injil yang selaras dengan peristiwa ini, yaitu ketika Nabi Luth diselamatkan Allah yang hendak menurunkan azab kepada kaumnya. Dalam Injil Perjanjian Lama dikisahkan, bahwa  orang-orang Sodom dan Gomora ingin berhubungan seks dengan kedua malaikat yang bersama dengan Lot (Kejadian 19:1-5).

Persepsi dari sejarah kelam umat  Nabi Luth tersebut diatas berkembang dan diyakini oleh sebagian kalangan yang mengkedepankan logika berfikir, tetapi tak memiliki dasar pengetahuan dan pemikiran kuat, sehingga kesimpulan berfikir mereka diambil berdasarkan penampakan atau performa Malaikat dalam ayat tersebut saja, sehingga berkesimpulan bahwa para malaikat dipahami sebagai figur yang bergender laki-laki.
Kemudian sejarah pun sepertinya terulang kembali, bahkan zaman Rosulullah berkembang menjadi lebih ekstrim lagi, dimana pada zaman Rosulullah terjadi pergeseran nilai-nilai normatif yang jauh bertentangan dengan zaman sebelumnya dalam memandang gender. Masyarakat jahiliyah, seperti Kaum Kafir Mekah, Kaum Yahudi dan Kaum Nasrani,  saat itu lebih membanggakan memiliki anak lelaki dari pada anak perempuan. Bahkan peristiwa pembunuhan dengan mengubur hidup-hidup anak perempuan dialami oleh seorang sahabat Rosulullah, Khalifah Umar bin Khotob yang kala itu masih jahiliyah, atau Ia belum menjadi seorang Mukmin.
Pemahaman budaya jahiliyah yang memandang rendah wanita ini berimbas pada pemberian  sifat kepada Allah,  sesuatu sifat yang mereka sendiri tidak menyukainya. Jalan pikiran mereka benar-benar kacau balau. Mereka menyifati Zat Yang Maha Esa dan Mulia dengan sifat yang lebih rendah menurut pandangan mereka sendiri. Ada tiga pemikiran yang berkembang saat masa jahiliyah tersebut, antara lain.
  1.   Mereka menganggap bahwa malaikat-malaikat itu anak-anak perempuan.
  2.   Mereka beranggapan bahwa malaikat itu anak-anak perempuan Allah.
  3.   Mereka menyembah malaikat-malaikat itu.


Kondisi jahiliyah masa Rosulullahini terekam sejarah, sebagaimana terungkap dalam Al Quran surat An Najm ayat 27-30,

¨bÎ) tûïÏ%©!$# Ÿw tbqãZÏB÷sムÍotÅzFy$$Î/ tbqJ|¡ãŠs9 sps3Í´¯»n=pRùQ$# spuÏJó¡n@ 4Ós\RW{$# ÇËÐÈ   $tBur Mçlm; ¾ÏmÎ/ ô`ÏB AOù=Ïæ ( bÎ) tbqãèÎ7­Ftƒ žwÎ) £`©à9$# ( ¨bÎ)ur £`©à9$# Ÿw ÓÍ_øóムz`ÏB Èd,ptø:$# $\«øx© ÇËÑÈ   óÚ̍ôãr'sù `tã `¨B 4¯<uqs? `tã $tR̍ø.ÏŒ óOs9ur ÷ŠÌãƒ žwÎ) no4quŠysø9$# $u÷R9$# ÇËÒÈ   y7Ï9ºsŒ Oßgäón=ö7tB z`ÏiB ÄNù=Ïèø9$# 4 ¨bÎ) y7­/u uqèd ãNn=÷ær& `yJÎ/ ¨@|Ê `tã ¾Ï&Î#Î7y uqèdur ÞOn=÷ær& Ç`yJÎ/ 3ytF÷d$# ÇÌÉÈ  

( Q.S. An Najm [53] : 27 – 30. Sesungguhnya orang-orang yang tiada beriman kepada kehidupan akhirat, mereka benar-benar menamakan Malaikat itu dengan nama perempuan. dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang Sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran. Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi. Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.

Berjalannya waktu dan berkembangnya faham jahiliyah tersebut semakin mengurita dilingkungan Mekah, sehingga Rosulullah merasa perlu untuk membantah persepsi yang salah dan ngawur ini. Melalui dakwanya Rosulullah menyampaikan sebuah risalah dengan bantahan yang bijak dalam bentuk pertanyaan dan pernyataan keras melalui sebuah firmannya.

ö/ä38xÿô¹r'sùr& Nà6š/u tûüÏYt7ø9$$Î/ xsƒªB$#ur z`ÏB Ïps3Í´¯»n=yJø9$# $·W»tRÎ) 4 ö/ä3¯RÎ) tbqä9qà)tGs9 »wöqs% $VJŠÏàtã ÇÍÉÈ  
(Q.S. Al Isra’ [17] : 40.) Maka Apakah patut Tuhan memilihkan bagimu anak-anak laki-laki sedang Dia sendiri mengambil anak-anak perempuan di antara Para malaikat? Sesungguhnya kamu benar-benar mengucapkan kata-kata yang besar (dosanya).

Bantahan terhadap sejarah keyakinan yang salah itu dipertegas kembali oleh Rosulullah. Mereka yang berkeyakinan bahwa Malaikat itu bergender wanita, tidaklah menyaksikan apa yang mereka katakan itu dan tidak dapat membuktikan dengan keterangan-keterangan wahyu yang tertulis. Tetapi keyakinan mereka itu hanyalah didasarkan kepada dongeng-dongeng yang mereka terima dari mulut ke mulut, yang sama sekali tidak didasarkan kepada jalan pikiran yang sehat. Anggapan mereka tersebut tidak benar bahkan mereka harus mempertanggungjawabkan yang mereka katakan dan bertanggungjawab pula terhadap akibat buruk yang dialami oleh orang-orang yang mengikutinya.
Hingga akhirnya Allah SWT menurunkan wahyunya kepada Nabi Muhammad SAW, guna mempertegas kondisi jahiliyah mereka yang sudah kelewat batas, bahwa kaum musyrikin dengan ucapan itu telah mengatakan ucapan yang besar dosanya, karena mereka itu telah mengada-adakan kebohongan terhadap Allah, dan karenanya diancam dengan siksaan yang pedih. Dan mereka telah menyia-nyiakan akal pikiran mereka sendiri, karena mereka memutar balikkan kebenaran yang semestinya harus mereka junjung tinggi.
óOÎgÏFøÿtGó$$sù y7În/tÏ9r& ßN$uZt6ø9$# ÞOßgs9ur šcqãZt6ø9$# ÇÊÍÒÈ   ÷Pr& $oYø)n=yz spx6Í´¯»n=yJø9$# $ZW»tRÎ) öNèdur šcrßÎg»x© ÇÊÎÉÈ   Iwr& Nåk¨XÎ) ô`ÏiB öNÎgÅ3øùÎ) šcqä9qà)us9 ÇÊÎÊÈ   ys9ur ª!$# öNåk¨XÎ)ur tbqç/É»s3s9 ÇÊÎËÈ   s"sÜô¹r& ÏN$oYt7ø9$# n?tã tûüÏZt6ø9$# ÇÊÎÌÈ   $tB ö/ä3s9 y#øx. tbqãKä3øtrB ÇÊÎÍÈ   Ÿxsùr& tbr㍩.xs? ÇÊÎÎÈ   ÷Pr& ö/ä3s9 Ö`»sÜù=ß ÑúüÎ7B ÇÊÎÏÈ   (#qè?ù'sù óOä3Î7»tFÅ3Î/ bÎ) ÷LäêZä. tûüÏ%Ï»|¹ ÇÊÎÐÈ   (#qè=yèy_ur ¼çmuZ÷t/ tû÷üt/ur Ïp¨YÅgø:$# $Y7|¡nS 4 ôs)s9ur ÏMyJÎ=tã èp¨YÅgø:$# öNåk¨XÎ) tbrçŽ|ØósßJs9 ÇÊÎÑÈ   z`»ysö6ß «!$# $¬Hxå tbqàÿÅÁtƒ ÇÊÎÒÈ   žwÎ) yŠ$t7Ïã «!$# tûüÅÁn=øÜßJø9$# ÇÊÏÉÈ  
(Q.S. As Shaffat [37] : 149 – 160 ) Tanyakanlah (ya Muhammad) kepada mereka (orang-orang kafir Mekah): "Apakah untuk Tuhanmu anak-anak perempuan dan untuk mereka anak laki-laki [1291], atau Apakah Kami menciptakan malaikat-malaikat berupa perempuan dan mereka menyaksikan(nya)? ketahuilah bahwa Sesungguhnya mereka dengan kebohongannya benar-benar mengatakan: "Allah beranak". dan Sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta. Apakah Tuhan memilih (mengutamakan) anak-anak perempuan daripada anak laki-laki? Apakah yang terjadi padamu? bagaimana (caranya) kamu menetapkan? Maka Apakah kamu tidak memikirkan? atau Apakah kamu mempunyai bukti yang nyata? Maka bawalah kitabmu jika kamu memang orang-orang yang benar. dan mereka adakan (hubungan) nasab antara Allah dan antara jin. dan Sesungguhnya jin mengetahui bahwa mereka benar-benar akan diseret (ke neraka ), Maha suci Allah dari apa yang mereka sifatkan, kecuali hamba-hamba Allah [1292] yang dibersihkan dari (dosa).
[1291] Orang musyrikin mengatakan bahwa Allah mempunyai anak-anak perempuan (malaikat), Padahal mereka sendiri menganggap hina anak perempuan itu.[1292] Yang dimaksud hamba Allah di sini ialah golongan jin yang beriman.
Ternyata perkembangan turunnya ayat diatas yang mempertegas eksistensi Allah yang Maha Tunggal, yang tak memiliki anak, dan juga bahwa Malaikat bukalah bergender wanita, serta ancamannya, semua itu tidak cukup ampuh, karena perkembangan selanjutnya kejahiliahan mereka masih terus terpelihara, hingga turun wahyu berikutnya,
(#qè=yèy_ur ¼çms9 ô`ÏB ¾ÍnÏŠ$t6Ïã #¹ä÷ã_ 4 ¨bÎ) šÆ»|¡SM}$# Öqàÿs3s9 îûüÎ7B ÇÊÎÈ   ÏQr& xsƒªB$# $£JÏB ß,è=øƒs ;N$uZt/ Nä38xÿô¹r&ur tûüÏZt6ø9$$Î/ ÇÊÏÈ   #sŒÎ)ur uŽÅe³ç0 Nèdßymr& $yJÎ/ z>uŽŸÑ Ç`»uH÷q§=Ï9 WxsVtB ¨@sß ¼çmßgô_ur #tŠuqó¡ãB uqèdur íOŠÏàx. ÇÊÐÈ   `tBurr& (#às¤±oYムÎû ÏpuŠù=Åsø9$# uqèdur Îû ÏQ$|Áσø:$# çŽöxî &ûüÎ7ãB ÇÊÑÈ   (#qè=yèy_ur sps3Í´¯»n=yJø9$# tûïÏ%©!$# öNèd ß»t6Ïã Ç`»uH÷q§9$# $·W»tRÎ) 4 (#rßÎgx©r& öNßgs)ù=yz 4 Ü=tGõ3çGy öNåkèEy»ygx© tbqè=t«ó¡çur ÇÊÒÈ   (#qä9$s%ur öqs9 uä!$x© ß`»oH÷q§9$# $tB Nßg»tRôt7tã 3 $¨B Nßgs9 šÏ9ºxÎ/ ô`ÏB AOù=Ïã ( ÷bÎ) öNèd žwÎ) tbqß¹ãøƒs ÇËÉÈ  
(Q.S Az Zukhruf [43] : 15-20 ) Dan mereka menjadikan sebahagian dari hamba-hamba-Nya sebagai bahagian daripada-Nya [1349]. Sesungguhnya manusia itu benar-benar pengingkar yang nyata (terhadap rahmat Allah). Patutkah Dia mengambil anak perempuan dari yang diciptakan-Nya dan Dia mengkhususkan buat kamu anak laki-laki. Padahal apabila salah seorang di antara mereka diberi kabar gembira dengan apa [1350] yang dijadikan sebagai misal bagi Allah yang Maha Pemurah; jadilah mukanya hitam pekat sedang Dia Amat menahan sedih [1351]. dan Apakah patut (menjadi anak Allah) orang yang dibesarkan dalam Keadaan berperhiasan sedang Dia tidak dapat memberi alasan yang terang dalam pertengkaran [1352]. dan mereka menjadikan malaikat-malaikat yang mereka itu adalah hamba-hamba Allah yang Maha Pemurah sebagai orang-orang perempuan. Apakah mereka menyaksikan penciptaan malaika-malaikat itu? kelak akan dituliskan persaksian mereka dan mereka akan dimintai pertanggung-jawaban. dan mereka berkata: "Jikalau Allah yang Maha Pemurah menghendaki tentulah Kami tidak menyembah mereka (malaikat)". mereka tidak mempunyai pengetahuan sedikitpun tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga belaka.
[1349] Maksudnya orang musyrikin mengatakan bahwa malaikat- Malaikat itu adalah anak-anak perempuan Allah Padahal Malaikat itu sebahagian dari makhluk ciptaan-Nya.[1350] Yang dimaksud dengan apa yang dijadikan sebagai misal bagi Allah ialah kelahiran anak perempuan.[1351] Maksud ayat ini ialah bilamana Dia diberi kabar tentang kelahiran anaknya yang perempuan, mukanya menjadi merah padam karena malu dan Dia Amat marah, Padahal Dia sendiri mengatakan bahwa Allah mempunyai anak perempuan.[1352] Ayat ini menggambarkan Keadaan wanita Arab waktu Al Quran diturunkan.
Dikisahkan dalam sebuah hadist, yang diketengahkan oleh Ibnu Mundzir melalui Qatadah yang mengatakan bahwa ada segolongan orang-orang munafik yang mengatakan, "Sesungguhnya Allah kawin dengan jin, maka lahirlah dari hubungan ini malaikat-malaikat." Allah menurunkan firman-Nya berkenaan dengan perkataan mereka yang tidak senonoh itu, "Dan orang-orang musyrik itu menjadikan malaikat-malaikat yang mereka itu adalah hamba-hamba Allah Yang Maha Pemurah sebagai orang-orang perempuan." (Q.S. Az Zukhruf, 19).
Ketegasan Rosulullah dalam meluruskan persepsi yang salah dan menahun ini disempurnakan oleh sebuah firman Allah dalam surat Maryam ayat  88-95,
(#qä9$s%ur xsƒªB$# ß`»oH÷q§9$# #V$s!ur ÇÑÑÈ   ôs)©9 ÷Läê÷¥Å_ $º«øx© #tŠÎ) ÇÑÒÈ   ߊ%x6s? ßNºuq»yJ¡¡9$# tbö©ÜxÿtGtƒ çm÷ZÏB ,t±Ys?ur ÞÚöF{$# ÏƒrBur ãA$t6Ågø:$# #ƒyd ÇÒÉÈ   br& (#öqtãyŠ Ç`»uH÷q§=Ï9 #V$s!ur ÇÒÊÈ   $tBur ÓÈöt7.^tƒ Ç`»uH÷q§=Ï9 br& xÏ­Gtƒ #µ$s!ur ÇÒËÈ   bÎ) @à2 `tB Îû ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur HwÎ) ÎA#uä Ç`»uH÷q§9$# #Yö7tã ÇÒÌÈ   ôs)©9 ÷Lài9|Áômr& öNèd£tãur #ttã ÇÒÍÈ   öNßg=ä.ur ÏmÏ?#uä tPöqtƒ ÏpyJ»uŠÉ)ø9$# #·Šösù ÇÒÎÈ  
( Q.S. Maryam [19] : 88 – 95 ) Dan mereka berkata: "Tuhan yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak". Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, Hampir-hampir langit pecah karena Ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka menda'wakan Allah yang Maha Pemurah mempunyai anak. dan tidak layak bagi Tuhan yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.
Dengan menggunakan gaya bahasa atau majas eufimisme, Allah menyindir mereka dengan sangat cerdas sekali, dengan menggunakan logika sederhana namun syarat akan makna.
Kalau sekiranya bumi, langit dan gunung-gunung mendengar dan memahami ucapan orang-orang kafir itu, meskipun ia tidak diberi akal dan pikiran oleh Allah, tentulah langit, bumi dan gunung-gunung itu akan terguncang dengan dahsyatnya karena kaget dan terhanyut dan mungkin akan menjadi hancur lebur, karena tidak dapat menerima kata-kata yang sangat berat risiko dan tanggung jawabnya itu, kata-kata, yang sangat menghina dan merendahkan martabat Penciptanya.
Untunglah bumi langit dan gunung-gunung itu tidak dapat mendengar apalagi memahami ucapan orang-orang kafir yang sangat sembrono itu.
Ini adalah suatu sindiran yang sangat tajam dan celaan yang amat keras terhadap orang-orang kafir itu yang bila mereka dapat mempergunakan akal yang dianugerahkan Allah kepada mereka, tentulah mereka tidak mungkin akan mengucapkan kata-kata seperti itu.
Dipenghujung perdebatan akan gender Malaikat ini, Allah mengultimatum akan kesalahan yang telah diperbuat hambanya. Mereka yang mengatakan Malaikat bergender perempuan dan mereka yang mengatakan Malaikat bergender lelaki, maka kelak mereka datang menghadap ke hadirat Allah pada hari itu untuk menerima perhitungan dan putusan bukan berkelompok-kelompok tetapi sendiri-sendiri yang tidak dapat diwakili walaupun oleh orang yang paling dekat kepadanya seperti anak atau istrinya.
Demikianlah ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan Allah bagi setiap hamba-Nya pada hari itu, tiada seorangpun yang dapat lolos dari padanya, setiap makhluk pasti menghadapi peristiwa yang hebat dan dahsyat itu dengan perasaan harap-harap cemas, apakah  akan termasuk golongan celaka yang akan digiring ke neraka dalam keadaan hina dina atau termasuk golongan bahagia yang akan dipersilahkan masuk ke surga dengan terhormat dan mulia.


















| 0 komentar |

GENDER MALAIKAT



P
erdebatan eksistensi gender Malaikat atau jenis kelamin Malaikat bukanlah perdebatan yang baru. Zaman mengungkap fakta bahwa awal mula perdebatan gender Malaikat telah terjadi sejak zaman Ibrahim dan Nabi Luth. Baik versi Al Quran maupun Injil dalam kisah Lot. Kedua kitab suci itu mengungkap tabir sejarah yang menyisakan perdebatan gender Malaikat, yang dikemudian hari menjadi sebuah keyakinan bagi umat tertentu.
Al Quran mengkisahkan Nabi Luth yang didatangi Malaikat yang bersosok lelaki tampan, seperti firmannya,

$£Js9ur ôNuä!%y` $uZè=ßâ $WÛqä9 uäûÓÅ öNÍkÍ5 s-$|Êur öNÍkÍ5 %YæösŒ tA$s%ur #x»yd îPöqtƒ Ò=ŠÅÁtã ÇÐÐÈ  

(Q.S. Huud [11] :  77). dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, Dia merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan Dia berkata: "Ini adalah hari yang Amat sulit [729]."
[729] Nabi Luth a.s. merasa susah akan kedatangan utusan-utuaan Allah itu karena mereka berupa pemuda yang rupawan sedangkan kaum Luth Amat menyukai pemuda-pemuda yang rupawan untuk melakukan homo sexual. dan Dia merasa tidak sanggup melindungi mereka bilamana ada gangguan dari kaumnya.

Injil memang tidak seluruhnya menyimpang, Injil yang asli dan benar tentu tidak akan pernah bertentangan dengan Al Quran, karena kedua kitab suci itu datang dari sumber yang sama, yaitu Allah SWT.

Ada beberapa ayat dalam injil yang selaras dengan peristiwa ini, yaitu ketika Nabi Luth diselamatkan Allah yang hendak menurunkan azab kepada kaumnya. Dalam Injil Perjanjian Lama dikisahkan, bahwa  orang-orang Sodom dan Gomora ingin berhubungan seks dengan kedua malaikat yang bersama dengan Lot (Kejadian 19:1-5).

Persepsi dari sejarah kelam umat  Nabi Luth tersebut diatas berkembang dan diyakini oleh sebagian kalangan yang mengkedepankan logika berfikir, tetapi tak memiliki dasar pengetahuan dan pemikiran kuat, sehingga kesimpulan berfikir mereka diambil berdasarkan penampakan atau performa Malaikat dalam ayat tersebut saja, sehingga berkesimpulan bahwa para malaikat dipahami sebagai figur yang bergender laki-laki.
Kemudian sejarah pun sepertinya terulang kembali, bahkan zaman Rosulullah berkembang menjadi lebih ekstrim lagi, dimana pada zaman Rosulullah terjadi pergeseran nilai-nilai normatif yang jauh bertentangan dengan zaman sebelumnya dalam memandang gender. Masyarakat jahiliyah, seperti Kaum Kafir Mekah, Kaum Yahudi dan Kaum Nasrani,  saat itu lebih membanggakan memiliki anak lelaki dari pada anak perempuan. Bahkan peristiwa pembunuhan dengan mengubur hidup-hidup anak perempuan dialami oleh seorang sahabat Rosulullah, Khalifah Umar bin Khotob yang kala itu masih jahiliyah, atau Ia belum menjadi seorang Mukmin.
Pemahaman budaya jahiliyah yang memandang rendah wanita ini berimbas pada pemberian  sifat kepada Allah,  sesuatu sifat yang mereka sendiri tidak menyukainya. Jalan pikiran mereka benar-benar kacau balau. Mereka menyifati Zat Yang Maha Esa dan Mulia dengan sifat yang lebih rendah menurut pandangan mereka sendiri. Ada tiga pemikiran yang berkembang saat masa jahiliyah tersebut, antara lain.
  1.   Mereka menganggap bahwa malaikat-malaikat itu anak-anak perempuan.
  2.   Mereka beranggapan bahwa malaikat itu anak-anak perempuan Allah.
  3.   Mereka menyembah malaikat-malaikat itu.


Kondisi jahiliyah masa Rosulullahini terekam sejarah, sebagaimana terungkap dalam Al Quran surat An Najm ayat 27-30,

¨bÎ) tûïÏ%©!$# Ÿw tbqãZÏB÷sムÍotÅzFy$$Î/ tbqJ|¡ãŠs9 sps3Í´¯»n=pRùQ$# spuÏJó¡n@ 4Ós\RW{$# ÇËÐÈ   $tBur Mçlm; ¾ÏmÎ/ ô`ÏB AOù=Ïæ ( bÎ) tbqãèÎ7­Ftƒ žwÎ) £`©à9$# ( ¨bÎ)ur £`©à9$# Ÿw ÓÍ_øóムz`ÏB Èd,ptø:$# $\«øx© ÇËÑÈ   óÚ̍ôãr'sù `tã `¨B 4¯<uqs? `tã $tR̍ø.ÏŒ óOs9ur ÷ŠÌãƒ žwÎ) no4quŠysø9$# $u÷R9$# ÇËÒÈ   y7Ï9ºsŒ Oßgäón=ö7tB z`ÏiB ÄNù=Ïèø9$# 4 ¨bÎ) y7­/u uqèd ãNn=÷ær& `yJÎ/ ¨@|Ê `tã ¾Ï&Î#Î7y uqèdur ÞOn=÷ær& Ç`yJÎ/ 3ytF÷d$# ÇÌÉÈ  

( Q.S. An Najm [53] : 27 – 30. Sesungguhnya orang-orang yang tiada beriman kepada kehidupan akhirat, mereka benar-benar menamakan Malaikat itu dengan nama perempuan. dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang Sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran. Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi. Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.

Berjalannya waktu dan berkembangnya faham jahiliyah tersebut semakin mengurita dilingkungan Mekah, sehingga Rosulullah merasa perlu untuk membantah persepsi yang salah dan ngawur ini. Melalui dakwanya Rosulullah menyampaikan sebuah risalah dengan bantahan yang bijak dalam bentuk pertanyaan dan pernyataan keras melalui sebuah firmannya.

ö/ä38xÿô¹r'sùr& Nà6š/u t